5 Faktor Penyebab Kegagalan Bisnis franchise

1111111

27/02/2020 0 Comments

Faktor kegagalan bisnis franchise harus sangat dipahami oleh mereka yang mulai menjalankan bisnis waralaba. Menjalankan bisnis waralaba Anda sendiri bisa menjadi pekerjaan yang sulit, meskipun itu adalah pekerjaan berat yang terbayar ketika Anda dapat mengantisipasi apa yang akan paling berdampak pada kesuksesan bisnis Anda. Pertimbangkan faktor-faktor apa saja yang membuat kegagalan bisnis franchise berikut ini.

Pada prinsipnya sistem franchise yaitu hubungan bisnis antara dua pihak yaitu franchisor atau pemilik franchise dan pembeli franchise atau dinamakan franchisee. Franchisor dan franchisee akan menggunakan brand sama, meski tak saling menyangkut satu dengan yang lain. Franchisee akan memasarkan produk atau jasa berdasarkan aturan yang diberikan franchisor, sementara franchisor akan memberikan supervisi sekaligus juga menjuah hal franchise kepada yang lain. Bisnis franchise adalah peluang bisnis yang instan utamanya untuk mereka yang baru memulai usaha.

Layaknya sebuah bisnis pada umumnya, model usaha yang satu ini pun tak selalu berhasil. Dalam beberapa kasus, para pembeli hak franchise bisa saja mengalami kerugian karena berbagai faktor yang mendera. Apa saja faktor kegagalan bisnis franchise yang wajib diperhatikan para calon pengusaha sehingga bisa dihindari?

1 Membeli Franchise dengan Fee Mahal

Apabila modal awal untuk membeli hak waralaba terlampau tinggi, tentu akan berakibat makin lamanya break event point atau balik modal. Misalnya Pak Udin hendak membeli franchise bimbingan belajar dan diharuskan membayar royalti sebesar Rp.500 juta dengan hak menggunakan merek selama 20 tahun. Modal tersebut belum mencakup uang sewa atau membeli tempat. Franchisee pun wajib membayar uang franchise sebesar 12,5% dari omzet setiap tahun. Malah, sejumlah franchise kenamaan pun ada yang masih meminta biaya tambahan khusus. Harus diketahui jika Break Even Point didapat dari besarnya modal awal dibagi laba. Dengan begitu makin besar modal awal maka akan makin lama pula waktu untuk balik modal.

2. Bahan Baku Mahal

Sejumlah bisnis franchise ada yang menganut konsep konsistensi kualitas produk atau layanan di mana pun konsumen membelinya. Untuk memastikan customer experience tersebut, sering franchisor mewajibkan franchisee membeli bahan baku hanya dari dia. Bisa ditebak, harga yang ditawarkan lebih mahal dibanding harga pasaran. Misalnya saja franchise makanan cepat saji memberlakukan harga lebih tinggi 5-10% dari harga pasar.

3. Terbatasnya Akses Modal

Sebagaimana usaha kebanyakan, kita harus menyiapkan tempat, peralatan, ataupun inventory ketika akan merintis franchise. Di industri franchise, biasanya kita pun harus menanggung fee dan royalti. Dengan begitu, diperlukan uang yang banyak untuk mengawali bisnis franchise ini. Ada sebagian franchisor yang membantu franchisee dengan menawarkan fasilitas pinjaman yang bekerja sama dengan lembaga keuangan tertentu.

4. Terlalu Banyak Pemain

Logikanya franchisor bisa meraup laba banyak ketika makin banyak franchisee yang membeli franchise yang ditawarkan. Kenyataan tersebut yang adakalanya tak terkendali dimana antar franchisee satu dengan yang lain lokasinya berdekatan yang menyebabkan omzet berkurang. Dengan begitu, penting memperhatikan banyak sedikitnya pemegang franchise produk tersebut di lokasi yang hendak dibuka. Temukan lokasi yang belum banyak kompetitor dengan konsumen potensial yang banyak.

5. Kurang Kreatif

Kerap kali suatu usaha gagal sebab produk atau jasa yang dijual kurang pas dengan kebutuhan konsumen. Perusahaan tak berhasil membuat calon konsumen membeli produk atau jasa yang dijual. Misalnya, franchisor mengharuskan kita menjual produk yang tertera dalam perjanjian, dengan begitu kita tak dapat mengganti atau memperluas jenis produk atau jasa yang akan dijual ke konsumen.

Leave A Comment

*

× Chat with us on Whatsapp